Your School, Your Story
Za . . .
Aku bersyukur terlahir di dunia ini, aku bersyukur karna banyak hal, termasuk pertama kali menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar, yang membuatku mengerti baca tulis Al-Qur'an.Za . . .
Aku menikmati pertumbuhanku mengenal agama ini dengan sebaik-baiknya, saat pertama kalinya aku menghafal surah Al-Ma'arij dibangku kelas 2 SD, sungguh hingga basah mataku karna takut akan setoran hafalan esok pagi. sedikit demi sedikit aku mulai mengerti Bahasa Arab, iyaa, bahasa dimana Al-Qur'an dapat dipahami. Ahh masa-masa itu membuatku memutar anggap saja kenangan lama, kenangan yang ku jadikan pemanis peristiwa kala aku lelah dalam berjuang, kala aku lelah dalam belajar, kala aku kesulitan memahami semuanya.
Usai perpisahan kelas dan kita mulai terpisah jarak karna menuntut ilmu di pesantren ternama Al-Mukmin Ngruki dan aku di Islamic International Boarding School of Daar Bakkah (IIBS) Jawa Timur, aku lupa jika pernah mengukir sejarah konyol saat dihukum dibawah terik panas matahari karna ulah nakal kita memainkan origami pesawat saat pelajaran Bahasa Jawa meskipun telah dibatasi tabir hijab yang sengaja Ustadz dan Ustadzah pasang karna melihat kita semua mulai beranjak dewasa , hahaha :D kamu masih ingat? aku baru boleh masuk kelas dengan syarat menangis histeris dan meminta maaf pada Ustadzah Ulum.
Kita mulai mengenakan seragam putih biru dan berkutat dengan dunia serba baru.
Hingga tak terasa 3 tahun lamanya tanpa kabar mekipun dunia sudah mengalami perubahan teknologi. Sesekali saat aku pulang liburan dan dengan sengaja melewati kediamanmu, hanya sunggingan senyum dan terheran-heran dengan pertemuan tanpa sapa.
Memasuki dunia yang katanya masa-masa indah disekolah, yup SMA !
aku mulai merasakan atmosfer yang berbeda kala pertemuan yang kali ini benar-benar tidak sengaja saat kita mengunjungi seorang teman yang terbaring sakit di PKU Muhammadiyah, ia teman sekolah yang terskenario sama-sama kita kenal ketika itu. Dari situ mula kabar yang selama ini tak terdengar sedikit terjawab satu persatu hingga ku dapatkan seikat bunga Edelweis ketika kau mendaki Gunung Merbabu dengan syarat aku mampu menurunkan berat badan :D
Hahahaa, lupakan soal itu, kita tersibukkan oleh organisasi sekolah hingga menjelang UN dan kita sepakat apabila mampu kuliah menembus batas negara kali ini wajib memberikan kabar, entah dengan cara apapun. Tersebar kabar kau akan terbang ke negara yang terkenal akan kekisruhan politik dan cuaca yang cepat dengan perubahannya yang ekstrim untuk belajar, aku masih merasa tak percaya saja akan batasan antara kita yang kurasa jauh meski masih di Benua Asia. Sedangkan aku yang ingin melanjutkan sekolah di Mesir mesipun tak kudapatkan restu Ummi dan akhirnya masih menjadi mimpi yang belum tertuntaskan hingga kini.
Za . . .
Rabu adalah hari tepatnya kau benar-benar pergi, dan aku bersyukur saat kau masih memberikan waktu pamitan atau katakan saja pertemuan kita di Indonesia tepatnya di ruang tamuku terakhir kali, bahkan tak hanya denganku, namun Ummiku juga. Aku terheran mengapa Ummiku menangis dan bukan aku sebagai temanmu? Sampai sekarang aku belum sanggup menafsirkan kata-kata beliau saat berdiri didepan pintu ketika menghantarkanmu pamit pulang. "Ia bukan anakku, namun kepergiannya untuk menimba ilmu seperti kehilanganmu, Dek" Ahh.. Sudahlah.
Za . . .
Kini aku memanggilmu lebih lama dari biasanya, merasakan keheningan sapa lewat rotasi do'a yang ku sebut dalam sujud panjang.
Za . . . Seperti namamu yang kutulis dalam catatan ini lima kali agar tak lupa namamu kusebut juga saat sholat. Tak ku maksudkan spesial dengan melupakan yang lainnya, tentu tidak. Kamu adalah satu dari sekian teman yang masih terpatri dalam sanubari meski terpisahkan ribuan kilo jarak.
Aku teringat penggalan ayat, untuk kunci semangat sejauh ini "... Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung " (Al-Ahzab : 71)
Senja hari, waktu Ashr. Belahan bumi Indonesia
-Waqodh FAZA fauzan 'adhima-
Al-Es'af

Tidak ada komentar:
Posting Komentar